Kamis, 20 Juni 2013

SBM MATEMATIKA

Konsep, Prinsip, dan Langkah-langkah Pemilihan Materi Ajar

1. Konsep, Prinsip, dan Langkah-langkah Pemilihan Materi Ajar
Salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
pembelajaran secara keseluruhan adalah kemampuan dan keberhasilan guru
merancang     materi   pembelajaran.   Materi   Pembelajaran   pada   hakekatnya
merupakan bagian tidak  terpisahkan dari Silabus, yakni perencanaan, prediksi
dan proyeksi tentang apa yang akan  dilakukan pada saat Kegiatan Pembelajaran. 
Secara   garis   besar   dapat   dikemukakan   bahwa   Materi   pembelajaran
(instructional  materials) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus
dikuasai   peserta   didik   dalam   rangka   memenuhi   standar   kompetensi   yang
ditetapkan. Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari
keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar pelaksanaan pembelajaran
dapat   mencapai   sasaran.   Sasaran   tersebut   harus   sesuai   dengan   Standar
Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh   peserta didik.
Artinya, materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi
yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi
dasar, serta tercapainya indikator. 


Materi pembelajaran dipilih seoptimal mungkin untuk membantu peserta
didik dalam  mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal-hal yang
perlu diperhatikan  berkenaan dengan pemilihan materi pembelajaran adalah jenis,
cakupan, urutan, dan perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran tersebut.
Agar guru dapat membuat persiapan yang berdaya guna dan berhasil guna,
dituntut  memahami berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan materi
pembelajaran,  baik berkaitan dengan hakikat, fungsi, prinsip, maupun prosedur
pengembangan materi  serta mengukur efektivitas persiapan tersebut. 
Jenis-jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasi sebagai berikut.   
a) Fakta; adalah segala hal yang bewujud kenyataan dan kebenaran, meliputi
nama-nama objek, peristiwa sejarah, lambang, nama tempat, nama orang,
nama bagian atau komponen suatu benda, dan sebagainya.
b) Konsep;  adalah segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang
bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, ciri
khusus, hakikat, inti /isi   dan sebagainya.
c) Prinsip;    adalah berupa hal-hal utama, pokok, dan memiliki posisi
terpenting,  meliputi dalil, rumus, adagium, postulat, paradigma, teorema,
serta hubungan  antarkonsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat.
d) Prosedur;  merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam
mengerjakan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem.
e) Sikap atau Nilai; merupakan hasil belajar aspek sikap, misalnya  nilai
kejujuran,   kasih sayang, tolong-menolong, semangat dan minat belajar,
dan bekerja, dsb. Contoh: aplikasi sosiologi dalam kehidupan sehari-hari
dalam bentuk sikap toleransi  dalam menghadapi fenomena sosial yang
bervariasi. 
Prinsip-Prinsip Pengembangan Materi  
Prinsip-prinsip   yang   dijadikan   dasar   dalam   menentukan   materi
pembelajaran   adalah     kesesuaian   (relevansi),   keajegan   (konsistensi),   dan
kecukupan (adequacy).  
a) Relevansi atau kesesuaian.
Materi   pembelajaran   hendaknya   relevan   dengan   pencapaian   standar
kompetensi dan pencapaian kompetensi dasar. Jika kemampuan  yang diharapkan
dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi  pembelajaran yang
diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun  jenis materi
yang lain. Contoh: kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah
”Menganalisis faktor penyebab pencemaran air di lingkungan tempat tinggal”
(Biologi kelas VII semester 2) maka pemilihan materi pembelajaran yang
disampaikan  seharusnya ”Referensi tentang pengertian pencemaran air, jenis-jenis bahan pencemar dalam pencemaran air, standar pencemaran air, dan lain
sebagainya”   (materi   konsep),   bukan   langkah-langkah   mengantisipasi     dan
menanggulangi pencemaran air (materi prosedur). 
b) Konsistensi atau keajegan.
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada dua macam,
maka materi yang harus diajarkan juga harus meliputi dua macam. Contoh:
kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik mendeskripsikan populasi dan
komunitas dalam ekosistem (Biologii Kelas VII semester 2), maka materi yang
diajarkan juga harus meliputi deskripsi tentang populasi dan komunitas dalam
ekosistem. 
c) Adequacy atau kecukupan.
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam  membantu peserta
didik menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak  boleh terlalu
sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu  sedikit maka kurang
membantu tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sebaliknya, jika
terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target
kurikulum (pencapaian keseluruhan SK dan KD). 
Dalam   pengembangan   materi   pembelajaran   guru   harus   mampu
mengidentifikasi dan  mempertimbangkan hal-hal berikut: 
1) Potensi peserta didik; meliputi potensi intelektual, emosional,
spiritual, sosial, dan potensi vokasional. 
2) Relevansi dengan karakteristik daerah; jika peserta didik dan
sekolah berlokasi bertempat di daerah pantai, maka pengembangan
materi pembelajaran diupayakan   agar selaras dengan kondisi
masyarakat pantai 
3) Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan
spritual peserta didik; 
4) Kebermanfaatan   bagi   peserta   didik;   pengembangan   materi
pembelajaran diupayakan  agar manfaatnya dapat dirasakan peserta
didik dalam waktu yang relatif singkat   setelah suatu materi
pembelajaran tuntas dilaksanakan. 
5) Struktur keilmuan; mengembangkan materi pembelajaran sosiologi
harus didasarkan   pada struktur keilmuan sosiologi. Misalnya:
mengembangkan  konsep urbanisasi,   jangan dimaknai secara
geografis (urbanisasi artinya perpindahan penduduk dari  pedesaan
ke perkotaan); seharusnya: urbanisasi adalah  perubahan  pola
berpikir,  bersikap, dan bertindak dari pola kehidupan masyarakat
pedesaan yang tradisional  menjadi pola kehidupan perkotaan yang
modern, disertai dengan perubahan dalam  sarana dan prasarana
penunjang   kehidupannya.   Sebab   perpindahan   penduduk   dari
pedesaan ke perkotaan hanya salah satu cara dalam urbanisasi 
6) Aktualitas,   kedalaman,   dan   keluasan   materi   pembelajaran;
mengembangkan   materi   pembelajaran   hendaknya   selalu
mempertimbangkan potensi peserta didik, tingkat  perkembangan
peserta didik, kebermanfaatan bagi peserta didik, alokasi waktu,
dan  perkembangan peradaban dunia 
7) Relevansi   dengan   kebutuhan   peserta   didik   dan   tuntutan
lingkungan;  
8) Alokasi waktu. 
Langkah-Langkah Penentuan Materi Pembelajaran
a) Identifikasi standar kompetensi dan kompetensi dasar 
Sebelum   menentukan   materi   pembelajaran   terlebih   dahulu   perlu   di
identifikasi aspek- aspek keutuhan kompetensi yang harus dipelajari atau dikuasai
peserta didik. Aspek  tersebut perlu ditentukan, karena setiap  standar kompetensi
dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan
pembelajaran. Harus   ditentukan apakah standar kompetensi   dan kompetensi
dasar yang harus dikuasai peserta  didik termasuk ranah kognitif, psikomotor
ataukah afektif. 
 Ranah   Kognitif   jika   kompetensi   yang   ditetapkan   meliputi
pengetahuan,   pemahaman,     aplikasi,   analisis,   sintesis,     dan
penilaian. 
 Ranah Psikomotor jika kompetensi yang ditetapkan meliputi gerak
awal, semirutin,  dan rutin. 
 Ranah Afektif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pemberian
respons, 
 apresiasi, penilaian, dan internalisasi. 
b) Identifikasi Jenis-Jenis Materi Pembelajaran 
Identifikasi dilakukan berkaitan dengan kesesuaian materi pembelajaran
dengan tingkatan aktivitas/ranah  pembelajarannya. Materi  yang sesuai untuk
ranah   kognitif     ditentukan   berdasarkan   perilaku   yang   menekankan   aspek
intelektual, seperti pengetahuan,  pengertian, dan keterampilan berpikir. Dengan
demikian, jenis materi yang sesuai untuk  ranah kognitif adalah fakta, konsep,
prinsip, dan prosedur. 
 Materi jenis fakta adalah materi  berupa nama-nama objek, nama
tempat, nama orang, lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau
komponen suatu benda, dan lain sebagainya.
 Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi.
 Materi   jenis   prinsip   berupa   dalil,   rumus,   postulat   adagium,
paradigma, teorema.
 Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu
secara urut, misalnya cara-cara pembuatan telur asin.
Materi pembelajaran yang sesuai untuk ranah afektif ditentukan berdasarkan
perilaku   yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap,
apresiasi, dan cara  penyesuaian diri. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai
untuk ranah afektif meliputi  rasa dan penghayatan, seperti pemberian respon,
penerimaan, internalisasi, dan penilaian.  Materi pembelajaran yang sesuai untuk
ranah psikomotor ditentukan berdasarkan perilaku   yang menekankan aspek
keterampilan motorik. Dengan demikian, jenis materi yang sesuai  untuk ranah
psikomotor terdiri dari gerakan awal, semirutin, dan rutin.  
Materi  yang akan  dibelajarkan   perlu  diidentifikasi  secara  tepat agar
pencapaian kompetensinya dapat diukur. Di samping itu, dengan mengidentifikasi
jenis-jenis materi yang akan dibelajarkan, maka guru akan mendapatkan ketepatan
dalam   metode   pembelajarannya.   Sebab,   setiap   jenis   materi   pembelajaran
memerlukan strategi, metode,  media, dan sistem evaluasi yang berbeda-beda.
Misalnya metode pembelajaran materi   fakta atau hafalan bisa menggunakan
“jembatan   keledai”,“jembatan   ingatan”(mnemonics),   sedangkan   metode
pembelajaran materi prosedur dengan cara  “demonstrasi”.  
c) Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan  kompetensi
dasar
Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang
akan dibelajarkan adalah dengan cara mengajukan pertanyaan tentang kompetensi
dasar yang  harus dikuasai peserta didik. Dengan mengacu pada kompetensi dasar,
kita akan  mengetahui apakah materi yang harus kita belajarkan berupa  fakta,
konsep,  prinsip,  prosedur, aspek sikap, atau keterampilan motorik.  
Berikut adalah pertanyaan penuntun untuk mengidentifikasi jenis materi
pembelajaran. 
 Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
mengingat nama  suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau
jawabannya “ya” maka materi pembelajaran yang harus diajarkan
adalah “fakta”. Contoh: Nama cagar alam dan suaka margasatwa di
Indonesia. 
 Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
kemampuan untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas
sesuatu, mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh
objek sesuai dengan suatu definisi? Kalau jawabannya “ya” berarti
materi yang harus diajarkan adalah “konsep”. Contoh : Seorang
guru Biologi menerangkan tentang keanekaragaman spesies salah
satunya variasi bentuk daun pada tanaman, kemudian peserta didik
diminta untuk menglasifikasikan atau mengelompokkan mana yang
termasuk bentuk daun bulat, lonjong, panjang, jorong, dan lain
sebagainya.
 Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
menjelaskan atau  melakukan langkah-langkah atau prosedur secara
urut atau membuat sesuatu? Bila “ya” maka materi yang harus
diajarkan   adalah   “prosedur”.   Contoh   :  Seorang   guru   Biologi
membelajarkan   bagaimana   proses   merancang   langkah-langkah
untuk menguji apakah fotosintesis menghasilkan karbohidrat .  
 Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
menentukan  hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan
hubungan antara berbagai macam konsep? Bila jawabannya “ya”,
berarti materi pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam
kategori “prinsip”. Contoh: Seorang guru Biologi menjelaskan
hubungan antara jumlah intensitas cahaya dengan pertumbuhan
kecambah.
 Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
memilih berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik
buruk, suka tidak suka, indah tidak indah? Jika jawabannya “ya”,
maka materi pembelajaran yang harus diajarkan berupa aspek sikap
atau   nilai.   Contoh:   Budi   memilih   tidak   merokok   walaupun
lingkungan sebayanya banyak yang merokok akibat pemahaman
terhadap bahaya rokok terhadap kesehatan. 
 Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik berupa
melakukan perbuatan secara fisik? Jika jawabannya “ya”, maka
materi pembelajaran yang harus  diajarkan adalah aspek motorik.
Contoh: Dalam membahas materi persilangan monohibrida, peserta
didik   diharapkan   mampu   melakukan   percobaan   imitasi
perbandingan gen.  
Agar menjadi lebih jelas dalam mengidentifikasi materi pembelajaran
apakah  termasuk aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, dan prosedur), aspek
afektif dan aspek  psikomotorik, berikut disajikan bagan alur (flowchart) langkah-langkah penentuan materi  pembelajaran. Selain menggambarkan langkah-langkah
yang menunjukkan cara berpikir,  diagram di bawah ini juga menunjukkan kata-kata   kunci  untuk   menentukan   jenis   atau   tipe  materi   pembelajaran   dalam
hubungannya dengan perumusan kompetensi dasar yang harus  dikuasai peserta
didik. 
d) Memilih Sumber Bahan Ajar
Setelah jenias materi ditentukan langkah berikutnya adalah menentukan
sumber bahan ajar. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari
berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media
audiovisual, dan sebagainya.
Diagram  1. Proses Pemilihan Materi Pembelajaran
2. Penentuan Cakupan Dan Urutan Penyajian Bahan Ajar
Bahan   ajar   merupakan   informasi,   alat   dan   teks   yang   diperlukan
guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.
Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/
instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang
dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. (National Center
for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based
Training).
Penentuan Cakupan Bahan Ajar
 Dalam menentukan cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus
memperhatikan beberapa aspek berikut 
a) Aspek kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur), aspek afektif,
ataukah aspek  psikomotor, karena ketika sudah diimplementasikan
dalam proses pembelajaran   maka tiap-tiap jenis uraian materi
tersebut   memerlukan   strategi   dan   media     pembelajaran   yang
berbeda-beda.   Selain   memperhatikan   jenis   materi   juga   harus
memperhatikan   prinsip-prinsip   yang   perlu   digunakan   dalam
menentukan   cakupan     materi   pembelajaran   yang   menyangkut
keluasan dan kedalaman materinya.  
b) Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak
materi-materi     yang   dimasukkan   ke   dalam   suatu   materi
pembelajaran. Kedalaman materi   menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung di dalamnya yang harus  dipelajari oleh
peserta didik. Sebagai contoh, proses fotosintesis dapat diajarkan di
SD, SLTP dan SMU, juga di perguruan tinggi, namun keluasan dan
kedalaman pada setiap jenjang pendidikan tersebut akan berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin luas cakupan
aspek proses fotosintesis yang dipelajari dan semakin detail pula
setiap aspek yang dipelajari.
c) Kecukupan (adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu
diperhatikan. Memadainya cakupan aspek materi dari suatu materi
pembelajaran   akan   sangat  membantu     tercapainya   penguasaan
kompetensi dasar yang telah ditentukan. Misalnya, jika dalam
pembelajaran dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada
siswa tentang dampak kepadatan penduduk, maka uraian materinya
mencakup: 
 Dampak kepadatan penduduk bagi ketesedian udara bersih
 Dampak kepadatan penduduk bagi ketersediaan air bersih
 Dampak kepadatan penduduk bagi kesejahteraan
 Dampak kepadatan penduduk bagi ketersediaan lahan
 Dampak kepadatan penduduk bagi lingkungan hidup, dan lain
sebagainya
Cakupan  atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui
apakah materi   yang akan diajarkan terlalu banyak, terlalu sedikit, atau telah
memadai sehingga terjadi   kesesuaian dengan kompetensi dasar yang ingin
dicapai.  
Urutan  Penyajian Bahan  Pembelajaran  
Urutan penyajian berguna untuk menentukan urutan proses pembelajaran.
Tanpa   urutan   yang   tepat,   jika   di   antara   beberapa   materi     pembelajaran
mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan
peserta   didik   dalam   mempelajarinya.   Misalnya,   materi   operasi   bilangan
penjumlahan,   pengurangan,   perkalian,   dan   pembagian.   Peserta   didik   akan
mengalami kesulitan mempelajari pengurangan jika  materi penjumlahan belum
dipelajari. Peserta didik akan mengalami kesulitan melakukan  pembagian jika
materi perkalian belum dipelajari.  
Materi   pembelajaran   yang   sudah   ditentukan   ruang   lingkup   serta
kedalamannya dapat  diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu: pendekatan
prosedural dan hierarkis. 
a) Pendekatan prosedural. 
Urutan materi pembelajaran secara prosedural menggambarkan langkah-langkah secara urut sesuai dengan langkah-langkah melaksanakan suatu tugas.
Misalnya langkah-langkah dalam melaksanakan “Percobaan Fermentasi Nata De
Coco ”.  Contoh : Urutan Prosedural  (tatacara) 
Pada   mata   pelajaran   Biologi,   peserta   didik   harus   mencapai   standar
kompetensi ”Melakukan Percobaan Fermentasi Nata De Coco”. Agar peserta
didik berhasil mencapainya, harus melakukan langkah-langkah berurutan mulai
dari persiapan media starter,  penyaringan dan pendidihan air kelapa, inokulasi
(pencampuran   dengan   starter),   fermentasi   (pemeraman),   dan  pemanenan.
Prosedur  penelitian tersebut dapat disajikan dalam materi pembelajaran sebagai
berikut:
Materi pembelajaran: Menyusun rancangan percobaan Fermentasi Nata De Coco
Urutan materi :
 Menentukan judul acara percobaan 
 Merumuskan tujuan percobaan
 Menentukan alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan
 Menyusun cara kerja
b) Pendekatan hierarkis 
Urutan materi pembelajaran secara hierarkis menggambarkan urutan yang
bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya
harus dipelajari  dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
Contoh : Urutan Hierarkis  (berjenjang) 
Menyusun rancangan penelitian.  Agar peserta didik mampu menyusun
rancangan penelitian, peserta didik terlebih dahulu harus mempelajari konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan yang mencakup:
 kenyataan,
 fakta,
 fenomena atau gejala,
 masalah,
 data,
 bukti/evidence
 asumsi,
 hipotesis,
 generalisasi,
 proposisi,
 potsulat,
 teori , dan
 konsep.
Selanjutnya peserta didik menerapkan konsep tersebut dalam pelaksanaan
penelitian. 
Contohnya,   untuk   dapat   mempelajari   persilangan   Mendel   baik   sifat
monohibrida maupun dihibrida, maka siswa harus memahami terlebih dahulu
konsep/teori mengenai hukum Mendel I dan II. Untuk itu, guru harus mengajarkan
prinsip barulah ke persilangan mendel, penyimpangan hukum Mendel dan
seterusnya. Contoh lainnya, untuk mempelajari materi tentang fermentasi, siswa
terlabih dahulu diajarkan tentang apa pengertian dari metabolisme, enzim sebagai
biokatalisator, jenis metabolisme (anabolisme dan katabolisme), pembagian pada
anabolisme   dan   katabolisme,   barulah   kemudian   fermentasi   didalami   pada
katabolisme bagian  respirasi anaerobik.
3. Sumber Materi Pembelajaran
Berbagai sumber materi pembelajaran atau sumber belajar dapat digunakan
untuk mendukung  materi pembelajaran  tertentu. Penentuan tersebut harus tetap
mengacu pada   setiap standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah
ditetapkan.  Beberapa jenis sumber belajar antara lain: 
 Buku  
Buku teks yang diterbitkan oleh berbagai penerbit dapat dipilih untuk
digunakan sebagai sumber bahan ajar. Buku teks yang digunakan sebagai
sumber bahan ajar untuk suatu jenis matapelajaran tidak harus hanya satu
jenis, apa lagi hanya berasal dari satu pengarang atau penerbit. Gunakan
sebanyak mungkin buku teks agar dapat diperoleh wawasan yang luas.
 Laporan hasil penelitian 
Laporan hasil penelitian yang diterbitkan oleh lembaga penelitian atau oleh
para peneliti sangat berguna untuk mendapatkan sumber bahan ajar yang atual
atau mutakhir.
 Jurnal (penerbitan hasil penelitian  dan pemikiran ilmiah) 
Penerbitan berkala yang berisikan hasil penelitian atau hasil pemikiran sangat
bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Jurnal-jurnal tersebut
berisikan berbagai hasil penelitian dan pendapat dari para ahli di bidangnya
masing-masing yang telah dikaji kebenarannya.
 Majalah ilmiah 
 Kajian pakar bidang studi
Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber bahan ajar.
Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau bahan
ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dan sebagainya.
 Karya profesional
Kalangan professional adalah orang-orang yang bekerja pada bidang tertentu.
Kalangan ilmuwan di bidang mikrobiologi misalnya tentu ahli di bidang
mikrobiologi. Sehubungan dengan itu bahan ajar yang berkenaan dengan
mikrobiologi dapat ditanyakan pada orang-orang yang bekerja di laboratorium
mikrobiologi, atau dosen bidang tersebut. 
 Buku kurikulum
Buku kurikulum penting untuk digunakan sebagai sumber bahan ajar. Karena
berdasar kurikulum itulah standar kompetensi, kompetensi dasar dan materi
bahan dapat ditemukan. Hanya saja materi yang tercantum dalam kurikulum
hanya berisikan pokok-pokok materi. Gurulah yang harus menjabarkan materi
pokok menjadi bahan ajar yang terperinci.
 Terbitan berkala seperti harian, mingguan, dan bulanan 
Penerbitan berkala seperti Koran banyak berisikan informasi yang berkenaan
dengan bahan ajar suatu mata pelajaran. Penyajian dalam koran-koran atau
mingguan menggunakan bahasa popular yang mudah dipahami. Karena itu
baik sekali apa bila penerbitan tersebut digunakan sebagai sumber bahan ajar.
 Situs-situs internet 
Bahan ajar dapat pula diperoleh melalui jaringan internet. Di internet kita
dapat memperoleh segala macam sumber bahan ajar. Bahkan satuan pelajaran
harian untuk berbagai mata pelajaran dapat kita peroleh melalui internet.
Bahan tersebut dapat dicetak atau dikopi.
 Narasumber (orang/manusia) 
 Multimedia (TV, Video, VCD, kaset audio, dsb) 
Berbagai jenis media audiovisual berisikan pula bahan ajar untuk berbagai
jenis mata pelajaran. Kita dapat mempelajari gunung berapi, kehidupan di laut,
di hutan belantara melalui siaran televisi.
 Lingkungan (alam, sosial, seni budaya, teknik, industri, ekonomi)
Berbagai lingkungan seperti lingkungan alam, lingkungan social, lengkungan
seni budaya, teknik, industri, dan lingkungan ekonomi dapat digunakan sebgai
sumber bahan ajar. Untuk mempelajari abrasi atau penggerusan pantai, jenis
pasir, gelombang pasang misalnya kita dapat menggunakan lingkungan alam
berupa pantai sebagau sumber.
Perlu diingat bahwa seorang guru tidak boleh hanya bergantung pada satu
jenis   sumber sebagai satu-satunya sumber belajar. Sumber Belajar adalah
rujukan, artinya dari berbagai sumber belajar tersebut seorang guru harus
melakukan analisis dan  mengumpulkan materi yang sesuai untuk dikembangkan
dalam bentuk bahan ajar. Di  samping itu, kegiatan pembelajaran bukanlah usaha
mengkhatamkan (menyelesaikan) keseluruhan isi suatu buku, tetapi membantu
peserta didik mencapai kompetensi. Karena  itu, hendaknya guru menggunakan
sumber belajar maupun Bahan Ajar secara bervariasi, untuk pengembangan bahan
ajar dapat berpedoman dengan panduan pengembangan bahan   ajar yang
diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan SMA. 
4. Langkah-Langkah Pemanfaatan Bahan Ajar (Strategi Penyampaian
Bahan Ajar Oleh Guru Dan Strategi Mempelajari Baha Ajar Oleh
Siswa)
1) Strategi Urutan Penyampaian  Strategi
a) Urutan Penyampaian Simultan 
Jika guru harus menyampaikan lebih dari satu materi pembelajaran, maka
menurut strategi urutan penyampaian simultan, materi secara keseluruhan
disajikan secara serentak, kemudian diperdalam satu demi satu (metode
global).
Contoh: Seorang guru mata pelajaran Biologi akan menyampaikan materi
tentang interaksi dalam ekosistem yang mencakup hubungan netral, predasi,
kompetisi,dan simbiosis. Pertama-tama Guru menyajikan gambaran umum
sekaligus secara garis besar mengenai definisi dari pola interaksi dalam
ekosistem kemudian memberikan contoh secara umum, kemudian setiap jenis
interaksi disajikan secara mendalam;
 pengertian dan contoh hubungan netral,
 pengertian dan contoh dari hubungan predasi,
 pengertian dan contoh dari hubungan kompetisi
 pengertian,   macam   dan   contoh   dari   masing-masing   jenis
simbiosis.
b) Strategi urutan penyampaian suksesif 
Jika guru harus menyampaikan materi pembelajaran lebih daripada satu,
maka menurut strategi urutan panyampaian suksesif, sebuah materi satu demi
satu disajikan secara mendalam baru kemudian secara berurutan menyajikan
materi berikutnya secara mendalam pula.
Contoh;   seorang   Guru   Biologi   akan   mengajarkan   materi   tentang
pengertian dan tingkatan keanekaragaman hayati, pentingnya keanekaragaman
hayati bagi pelestarian  ekosistem, dan manfaat keanekaragaman  hayati.
Pertama-tama guru menyajikan gambaran umum sekaligus secara garis besar
mengenai konsep keanekaragaman hayati serta kaitannya dengan pelestarian
ekosistem.   Kemudian guru akan menyampaikan materi secara mendalam
mengenai   definisi   dari   keanekaragam   hayati   serta   tingkatan   yang   ada
didalamnya. Setelah itu,  guru akan menjabarkan secara mendalam tentang
keanekaragaman   hayati   yang   ada   di   Indonesia   serta   alasan   mengapa
keanekaragaman hayati sangat penting bagi kelestarian ekosistem (termasuk
manusia di dalamnya). Selanjutnya guru akan membahas secara mendalam
mengenai manfaat dari keanekaragam hayati; nilai ekologis, nilai sosial
budaya, nilai komersil, nilai rekreasi, nilai pendidikan dan penelitian serta
sebagai sumber pangan, pakaian perumahan, dan kesehatan. Dengan demikian
guru menyampaikan materi secara terstruktur dan terdapat keterkaitan antara
penyampaian materi yang satu dengan yang lainnya.
2) Strategi  Penyampaian  Jenis-Jenis Materi 
Secara garis besar, langkah-langkah menyampaikan materi pembelajaran
sangat  bergantung kepada jenis materi yang akan disajikan. Langkah-langkah dan
strategi yang  dijabarkan dalam panduan ini adalah masih dalam taraf minimal.
Pengembangannya,  diserahkan pada kreativitas guru, sepanjang tidak menyalahi
kaidah-kaidah yang telah  dijelaskan pada poin-poin sebelumnya.
a) Strategi Penyampaian Fakta 
Jika guru harus manyajikan materi pembelajaran jenis fakta (nama-nama
benda, nama tempat, peristiwa sejarah, nama orang, nama lambang atau
simbol,   dan   sebagainya).   Langkah-langkah   membelajarkan   materi
pembelajaran jenis “fakta”:  
 Sajikan fakta dengan lisan, tulisan, atau gambar
 Berikan bantuan untuk materi yang harus dihafal. Bantuan diberikan
dalam bentuk penyampaian secara bermakna, menggunakan jembatan
ingatan, jembatan keledai, atau mnemonics, asosiasi berpasangan, dan
sebagainya.  Bantuan penyampaian materi fakta secara bermakna,
misalnya   menggunakan   cara   berpikir   tertentu   untuk   membantu
menghafal.
Bantuan menghafal berupa asosiasi berpasangan  (pair   association)
misalnya untuk mengingat-ingat di mana letak stalakmit dan stalaktit pada
pelajaran sains. Apakah stalaktit di atas atau di bawah? Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, pasangkan huruf T pada atas, dengan T pada tit-nya
stalaktit. Jadi stalaktit terletak di atas, sedangkan stalakmit terletak di
bawah. Contoh lain penggunaan jembatan keledai atau jembatan ingatan:
(1) untuk menghafal warna-warna pada pelangi yaitu MEJIKUHIBINIU
(merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu) (2) Untuk menghafal nama-nama bulan yang berumur 30 hari digunakan AJUSENO (April, Juni,
September, Nopember).
 Berikan soal-soal mengingat kembali (review) 
 Berikan umpan balik 
 Berikan tes. 
Contoh : seorang guru Biologi akan mengajarkan materi pokok “Sistem
Gerak Pada Manusia” sub pokok bahasan “sistem gerak pasif ; susunan tulang
tengkorak manusia”. Maka langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh guru
adalah:
 Menyajikan   fakta berupa susunan tulang pada tengkorak manusia
meliputi; tulang dahi, tulang ubun-ubun, tulang tengkorak, tulang
pelipis, tulang baji, tulang pipi dengan lengkungan-lengkungannya,
tulang rahang atas, tulang rahang bawah, tulang tapis,  tulang air mata
dan tulang hidung.
 Memberikan   bantuan   kepada   siswa   untuk   mempermudah   cara
mengingan   susunan   tulang   pada   tengkorak   misalnya   dengan
menyebutkan nama tulang sambil menunjukkan posisinya pada kepala
masing-masing, atau dengan membuat singkatan.
 Menunjuk beberapa orang siswa secara acak untuk menunjukkan letak
tulang pada tengkorak smbil menghafalkan nama-nama tersebut di
depan kelas. Dengan demikian siswa akan berusaha mengingat dan
menguasai materi karena dapat ditunjuk sewaktu-waktu. Selain itu,
siswa dapat dibantu untuk mengingat materi dengan memperhatikan
presentasi temannya di depan kelas.
 Mengoreksi hasil  presentasi  siswa di  depan  kelas   jika  terdapat
kesalahan, memberikan penghargaan bagi siswa yang berhasil, serta
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang
tidak   dimengerti   atau   untuk   menanggapi   persentasi   dari   teman
sebayanya.
 Memberikan tes tulis pada akhir pembelajaran.
b) Strategi penyampaian konsep 
Materi pembelajaran jenis konsep adalah materi berupa definisi atau
pengertian. Tujuan mempelajari konsep adalah agar peserta didik paham, dapat
menunjukkan   ciri-ciri,   unsur,   membedakan,   membandingkan,
menggeneralisasi,   dan   sebagainya.   Langkah-langkah   mengajarkan   atau
menyampaikan materi pembelajaran jenis ”konsep”: 
 Sajikan Konsep 
 Berikan bantuan (berupa inti isi, ciri-ciri pokok, contoh dan bukan
contoh) 
 Berikan soal-soal latihan dan tugas   
 Berikan umpanbalik 
 Berikan tes. 
Contoh:   Seorang   guru   biologi   akan   mengajarkan   materi   pokok
“Klasifikasi Tumbuhan” sub pokok bahasan “Perbedaan antara tumbuhan
gymnospermae   dan   angiospermae”.   Maka   langkah-langkah   yang   dapat
dilakukan oleh guru adalah:
 Menyajikan konsep seperti definisi dari tumbuhan gymnospermae dan
angiospermae, kemudian menjelaskan masing-masing ciri umum dari
tumbuhan tersebut.
 Memberikan inti atau ciri-ciri spesifik yang membedakan antara
timbuhan gymnospermae, misalnya dari segi perbungaan, morfologi
daun, penampakan biji, dan lain sebagainya.
 Memberikan tugas berupa mengidentifikasi tumbuhan yang ada di
pekarangann sekolah atau di lingkungan tempat tinggal masing-masing
apakah   termasuk   tumbuhan   gymnospermae   atau   angiospermae
berdasarkan ciri yang diamati.
 Memeriksa   dan   membahas   (mendiskusikan)   kembali   tugas   yang
diberikan bersama siswa.
 Memberikan tes lisan atau tertulis pada akhir pembelajaran
Contoh lainnya : Guru Biologi akan menyampaikan materi tentang ciri-ciri mahluk hidup, maka langkah-langkah yang harus ditempuh adalah :
 Menyajikan konsep berupa pengertian dari mahluk hidup, dan ciri-ciri
mahluk hidup
 Memberikan contoh ciri mahluk hidup yang dapat diamati pada dirinya
sendiri   maupun   mahluk   hidup   lain   yang   berada   di   sekitarnya.
Contohnya; siswa merasakan bahwa dirinya setiap saat bernapas, ayam
berlarian, burung terbang, tumbuhan putri malu yang mengatupkan
daunnya ketika disentuh, dan lain-lain.
 Memberikan tugas berupa mencari contoh lain dari masing-masing ciri
selain yang telah disebut oleh guru pada lingkungan sekitar
 Mengoreksi   jawaban   dari   tugas   yang   diberikan   oleh   siswa,
memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan guru
menjawab pertanyaan mengenai materi yang disampaikan
 Memberikan tes pada akhir pembelajaran
c) Strategi penyampaian materi pembelajaran prinsip 
Termasuk materi pembelajaran jenis prinsip adalah dalil, rumus, hukum
(law), postulat, teorema, dan sebagainya. Langkah-langkah mengajarkan atau
menyampaikan materi pembelajaran jenis “prinsip” : 
 Berikan prinsip 
 Berikan bantuan berupa contoh penerapan  prinsip 
 Berikan soal-soal latihan 
 Berikan umpan balik 
 Berikan tes. 
Contoh; Seorang guru biologi akan mengajarkan materi pada pokok
bahasan Hereditas sub pokok bahasan; Persilangan Mendel. Langkah-langkah
yang dapat dilakukan oleh guru adalah :
 Memberikan prinsip yaitu arti dari istilah-istilah dalam genetika (sifat
dominan, resesif, intermediet, monohibrida, dihibrida, fenotip, genotip,
alel, gen dan lain-lain), teori Hukum Mendel I dan II serta penjelasan
maksud dari hukum tersebut
 Memberikan   contoh   soal   mengenai   persilangan   mendel   yaitu
persilangan monohibrida dan dihibrida untuk sifat dominan, resesif dan
intermediet.
 Memberikan soal latihan mengenai persilangan monohibrida dan
dihibrida untuk sifat dominan, resesif dan intermediet.
 Memeriksa/mengecek   jawaban   siswa   kemudian   mendiskusikan
jawaban siswa di depan kelas, mengoreksi pekerjaan yang salah.
Menanyakan hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa kemudian
membahasnya bersama siswa
 Memberikan  soal/tes pada akhir pembelajaran  untuk mengetahui
ketuntasan belajar siswa pada materi persilangan mendel.
d) Strategi Penyampaian Prosedur 
Tujuan mempelajari prosedur adalah agar peserta didik dapat melakukan
atau mempraktekkan prosedur tersebut, bukan sekedar paham atau hafal.
Termasuk   materi   pembelajaran   jenis   prosedur   adalah   langkah-langkah
mengerjakan suatu tugas secara urut. Langkah-langkah mengajarkan prosedur
meliputi:  
 Menyajikan prosedur 
 Pemberian bantuan dengan jalan mendemonstrasikan bagaimana cara
melaksanakan  prosedur 
 Memberikan latihan (praktik) 
 Memberikan umpanbalik 
 Memberikan tes.  
Contoh : Seorang guru biologi mengajarkan materi tentang Mikroskop,
sub pokok bahasan; cara menggunakan mikroskop. Untuk itu, guru dapat
melakukan langkah-langkah sebagai berikut ;
 Menyajikan prosedur/cara menggunakan mikroskop
 Mendemonstrasikan cara menggunakan mikroskop di depan siswa
 Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan cara
menggunakan mikroskop.
 Mengadakan tanya-jawab mengenai hal-hal yang belum dimengerti,
mengulas dan mengoreksi kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa
selama praktikum
 Memberikan tes lisan, tulis atau berupa tes unjuk kerja.
e) Strategi penyampaian materi aspek sikap (afektif) 
Termasuk materi pembelajaran aspek sikap (afektif) menurut Bloom
(1978) adalah  pemberian respons, penerimaan suatu nilai, internalisasi, dan
penilaian. Beberapa strategi mengajarkan materi aspek sikap antara lain:
penciptaan   kondisi,   pemodelan   atau   contoh,   demonstrasi,   simulasi,
penyampaian ajaran atau dogma.  Contoh: pada mata pelajaran Biologi kelas
VII   yaitu   memberikan contoh peran manusia dalam menjaga kelestarian
ekosistem.   
 Strategi penciptaan kondisi: misalnya, agar siswa aktif dalam berdiskusi
maka   dibuatkan   peraturan   yaitu   setiap   siswa   wajib   mengajukan
pertanyaan, menanggapi atau  menjawab pertanyaan minimal 1 kali dan
siswa yang paling aktif dalam berdiskusi akan mendapatkan penghargaan
berupa tambahan skor/nilai.
 Strategi pemodelan atau contoh: agar siswa mampu melakukan kegiatan
mencangkok maka guru terlebih dahulu mencontohkan cara mencangkok
misalnya pada pohon mangga.
 Strategi   demonstrasi   :   guru   mendemonstrasikan   cara   menggunakan
autoclave dengan baik dan benar sehingga siswa dapat meniru dan dapat
menggunakan autoclave   dengan baik dan benar sesuai dengan yang
didemonstrasikan oleh guru di depan kelas.
 Strategi   simulasi   :   guru   membuat   contoh   simulasi   tentang   proses
pembekuan   darah,   sehingga   siswa   mampu   mengembangkan   contoh
simulasi lainnya untuk memvisualisasikan materi tentang fagositosit pada
sel darah putih.
 Strategi penyampaian ajaran atau dogma : guru menyampaikan bahaya zat
aditif bagi kesehatan manusia, salah satunya tar pada rokok dan MSG.
dengan demikian siswa yang memahami bahaya   zat tersebut akan
menjauhi rokok dan menghentikan konsumsi MSG yang berlebihan.
4.  Strategi Belajar 
Ditinjau   dari   sisi   guru,   perlakuan  (treatment)  terhadap   materi
pembelajaran   berupa   kegiatan   guru   menyampaikan   atau   membelajarkan
kepada peserta didik (teaching activity).  Sebaliknya, ditinjau dari sisi peserta
didik, perlakuan terhadap materi pembelajaran berupa mempelajari atau
berinteraksi dengan materi pembelajaran (learning activity).  
Secara khusus dalam belajar, kegiatan peserta didik dapat dikelompokkan
menjadi  menghafal, menggunakan, menemukan, dan memilih.  Penjelasan dan
contoh berikut adalah minimal. Guru dipersilakan melakukan pengembangan
disesuaikan dengan metode-metode lebih mutakhir yang dimiliki:  
 Menghafal  
Ada dua jenis menghafal, yaitu menghafal verbal (remember verbatim)
dan menghafal parafrase (remember   paraphrase). Menghafal verbal adalah
menghafal persis seperti apa adanya. Terdapat materi pembelajaran yang
memang harus dihafal persis  seperti apa adanya, misalnya nama latin, nama
tempat,   nama  zat,   lambang,   peristiwa  sejarah,   nama-nama  bagian   atau
komponen   suatu   benda,   dan   sebagainya.   Sebaliknya   ada   juga   materi
pembelajaran yang tidak harus dihafal persis seperti apa adanya tetapi dapat
diungkapkan   dengan bahasa atau kalimat sendiri (hafal parafrase). Yang
penting peserta didik paham   atau mengerti, misalnya paham inti dari
metabolisme, dan sebagainya.   
 Menggunakan/Mengaplikasi  
Materi pembelajaran setelah dihafal atau dipahami kemudian  digunakan
atau diaplikasikan.  Jadi dalam proses pembelajaran peserta didik perlu
memiliki kemampuan untuk menggunakan, menerapkan atau mengaplikasi
materi yang telah dipelajari. 
Penggunaan fakta  atau data  adalah untuk dijadikan bukti
dalam rangka pengambilan putusan. Contoh: berdasarkan hasil
percobaan ditemukan fakta/bukti bahwa tumbuhan tidak dapat
berfotosintesis   dalam   keadaan   tanpa   cahaya.   Dengan
menggunakan fakta tersebut, siswa dapat menyimpulkan bahwa
untuk dapat berfotosintesis selain membutuhkan air dan CO
2
tumbuhan juga membutuhkan cahaya sebagai sumber energi
dalam fotosintesis.
Penggunaan materi konsep adalah untuk menyusun proposisi,
dalil, atau rumus. Seperti diketahui, dalil atau rumus merupakan
hubungan antara beberapa konsep. Misalnya, jika produsen
pada suatu ekosistem musnah, maka hewan yang berada pada
tingkatan trofik selanjutnya (konsumen I, konsumen II, sampai
konsumen puncak) juga akan ikut musnah. Konsep-konsep
dalam   interaksi   tersebut   meliputi   satuan-satuan   kehidupan
dalam ekosistem, interaksi antara komponen biotik (rantai
makanan), keseimbangan ekosistem, piramida ekologi, arus
energi.
Selain itu, penguasaan atas suatu konsep digunakan untuk menggenerali-sasi dan membedakan. Contoh, seorang anak yang telah memahami konsep
“gen adalah pembawa sifat keturunan”, akan dapat menggeneralisasikan
bahwa baik pada tumbuhan, hewan maupun manusia apapun jenisnya,
seluruh sifat yang dibawa oleh suatu individu ditentukan oleh gen, baik
yang bersifat dominan  maupun resesif.
Penerapan   atau   penggunaan   prinsip  adalah   untuk
memecahkan masalah pada kasus-kasus lain. Contoh: seorang
peserta   didik   yang   telah   mampu   membuat   instrumen
pengumpulan   data   dan   analisis   data,   dapat   menentukan
kesimpulan hasil penelitiannya. Atau siswa yang telah mampu
menghitung   kepadatan   populasi   di   suatu   wilayah,   dapat
menghitung menghitung kepadatan populasi di daerah manapun
juga.
Penggunaan materi prosedur adalah untuk dikerjakan  atau
dipraktikkan.   Contoh:   Seorang   peserta   didik   yang   telah
menguasai materi klasifikasi tumbuhan dan dapat menggunakan
kunci   determinasi   tumbuhan   dapat   mengidentifikasi   jenis
tumbuhan yang ada di lingkungannya. 
Penggunaan   prosedur   (psikomotorik)  adalah   untuk
mengerjakan tugas atau  melakukan suatu perbuatan. Sebagai
contoh, peserta didik mampu melakukan sterilisasi setelah
mendapatkan materi/mengetahui tentang cara sterilisasi.
Penggunaan materi sikap adalah berperilaku sesuai nilai atau
sikap yang telah dipelajari. Misalnya, setelah mendapatka
materi   tentang   “teknik   aseptik”   maka   siswa   dapat  selalu
berindak secara aseptik baik dalam kegiatan laboratorium
maupun dalam kegiatan sehari-hari.
 Menemukan 
Penemuan di sini adalah menemukan cara memecahkan masalah-masalah
baru  dengan menggunakan fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang telah
dipelajari.  Menemukan, merupakan hasil belajar tingkat tinggi. Gagne (1987)
menyebutnya   sebagai   penerapan   strategi   kognitif.   Misalnya,   setelah
mempelajari materi ”golongan darah pada manusia”, seorang siswa dapat
mengetahui atau memprediksi golongan darah keturunan seseorang jika telah
diketahui golongan darah yang dimiliki oleh orang tuanya.  
 Memilih 
Memilih di sini menyangkut aspek afektif atau sikap. Yang dimaksudkan
dengan memilih di sini adalah memilih untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu. Misalnya  memilih membaca novel daripada membaca tulisan ilmiah,
siswa   memilih untuk menghindari kontak berlebih dengan kucing setelah
mengetahui bahwa kucing menularkan jenis bakteri Helicobacter phyllory. 

SBM MAT

Remedial merupakan program pengajaran perbaikan yang khusus diberikan guru kepada siswa (individu/kelompok) karena siswa tersebut memiliki masalah dalam belajar (kurang/ tidak menguasai materi belajar). Program pengayaan merupakan program belajar yang diberikan kepada siswa yang telah menguasai materi pelajaran. Tujuan dari kedua kegiatan ini adalah membantu siswa dalam meningkatkan keberhasilan dalam belajar, meskipun keduanya memiliki metode yang berbeda dalam pelaksanaannya. Beberapa bentuk kegiatan dalam remedial, antara lain :
1.      Menjelaskan kembali materi yang sedang dipelajari
2.      Memberikan tugas tambahan kepada tiap siswa dengan individu atau kelompok
3.      Bimbingan secara khusus
4.      Penyederhanaan materi, penyajian atau soal pertanyaan yang akan disajikan.
Sedangkan beberapa bentuk kegiatan untuk program pengayaan, antara lain :
1.      Menugaskan siswa membaca materi pokok dalam kompetensi dasar selanjutnya
2.      Memfasilitasi siswa melakukan percobaan-percobaan, soal latihan, menganalisa gambar dan sebagainya.
3.      Memberikan bahan bacaan untuk didiskusikan guna menambah wawasan para siswa
4.      Membantu guru membimbing teman-temanya yang belum mencapai standar ketuntasan belajar minimum.
Waktu yang diberikan untuk remedial dan pengayaan adalah sebagai berikut :
1.      Setelah mengikuti tes Ujian Kompetensi Dasar tertentu
2.      Setelah mengikuti ulangan blok yang terdiri dari beberapa kesatuan Kompetensi Dasar
3.      Setelah mengikuti ujian/ tes Kompetensi Dasar atau blok trakhir pada semester ganjil atau genap.

Tujuan Pembelajaran Remedial
1.      Siswa memahami dirinya khususnya yang menyangkut prestasi belajar yang meliputi kelebihan dan kelemahannya, jenis dan sifat kesulitan yang dihadapi.
2.      Siswa dapat mengubah atau memperbaiki cara belajar ke arah yang lebih baik sesuai dengan kesulitan belajar yang dihadapi.
3.      Siswa dapat mengatasi hambatan belajar yang menjadi latar belakang kesulitannya.
4.      Siswa dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat untuk mengatasi kesulitan belajar.
5.      Siswa dapat mengembangkan sifat dan kebiasaan baru yang dapat mendorong tercapainya prestasi belajar yang lebih baik.
6.      Siswa dapat mengerjakan tugas  lebih baik.

Sabtu, 15 Juni 2013

ketrampilan belajar mengajar



KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR (BPMP)
Keterampilan mengajar bagi seorang guru adalah sangat penting kalau ia ingin menjadi seorang guru yang profesional, jadi disamping dia harus menguasai sumbstansi bidang studi yang diampu, keterampilan dasar mengajar juga adalah merupakan keterampilan penunjang untuk keberhasilan dia dalam proses belajar mengajar.
Sari dari keterampilan dasar mengajar ini diambil dari berbagai sumber dimana bahan ini digunakan untuk para mahasiswa yang melakukan praktek mengajar di sekolah sebelum dia bekerja sepenuhnya sebagai seorang guru.
Pada kenyataannya dewasa ini banyak para guru yang mengajar dengan pola tradisional dan mengabaikan keterampilan-keterampilan yang sangat mendasar ini.
Keterampilan dasar mengajar ini adalah merupakan panduan pengajaran mikro dengan menggunakan perangkat Sydney Micro Skills (1973).
Keterampilan Dasar Mengajar ini adalah :
1.KeterampilanBertanya
2. Keterampilan Memberi Penguatan
3. Keterampilan Mengadakan variasi
4. Keterampilan Menjelaskan
5. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
6. Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
7. Keterampilan Mengelola Kelas
8. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

Keterampilan Bertanya
Dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh seorang guru tidaklah lepas dari guru memberikan pertanyaan dan murid memberikan jawaban yang diajukan.
Pada kenyataannya di lapangan banyak para guru yang tidak menguasai teknik-teknik dalam memberikan pertanyaan kepada siswa sehingga banyak pertanyaan tersebut hanya bersifat knowledge saja artinya kebanyakan hanya mengandalkan ingatan.
Pengertian dan Rasional keterampilan bertanya bertujuan untuk memperoleh informasi untuk memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berfikir. Pertanyaan yang diberikan bisa bersifat suruhan maupun kalimat yang menuntut respon siswa.

Tujuan-tujuan dalam memberikan pertanyaan tersebut adalah:
1. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan.
2. Memusatkan perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep.
3. Mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar.
4. Mengembangkan cara belajar siswa aktif.
5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi.
6. Mendorong siswa mengemukakannya dalam bidang diskusi.
7. Menguji dan mengukur hasil belajar siswa.
8. Untuk mengetahui keberhasilan guru dalam mengajar.

Komponen-komponennya yaitu:
1) Pengungkapan pertanyaan secara jelas
2) Pemberian Acuan
3) Pemusatan
4) Pemindahan Giliran
5) Penyebaran
6) Pemberian waktu berfikir
7) Pemberian Tuntunan

Guru perlu menguasai keterampilan bertanya karena:
1. guru cenderung mendominasi kelas dengan ceramah,
2. siswa belum terbiasa mengajukan pertanyaan,
3. siswa harus dilibatkan secara mental-intelektual secara maksimal, dan
4. adanya anggapan bahwa pertanyaan hanya berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.

Pertanyaan yang baik mempunyai berbagai fungsi antara lain:
1. mendorong siswa untuk berpikir,
   2. meningkatkan keterlibatan siswa,
3. merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan,
4. mendiagnosis kelemahan siswa,
5. memusatkan perhatian siswa pada satu masalah, dan
6. membantu siswa mengungkapkan pendapat dengan bahasa yang baik.

Keterampilan bertanya dasar terdiri atas komponen-komponen:
1. pengajuan pertanyaan secara jelas dan singkat,
2. pemberian acuan,
3. pemusatan,
4. pemindahan giliran,
5. penyebaran,
6. pemberian waktu berpikir, dan
7. pemberian tuntunan.

Keterampilan bertanya lanjut terdiri dari komponen:
1. pengubahan tuntutan kognitif dalam menjawab pertanyaan,
2. pengaturan urutan pertanyaan,
3. penggunaan pertanyaan pelacak, dan
4. peningkatan terjadinya interaksi.

Dalam menerapkan keterampilan bertanya dasar dan lanjut, guru perlu memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. Kehangatan dan keantusiasan.
2. Menghindari kebiasaan mengulang pertanyaan sendiri, menjawab pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan yang mengundang jawaban serempak, mengulangi jawaban siswa, mengajukan pertanyaan ganda, dan menunjuk siswa sebelum mengajukan pertanyaan
3. Waktu berpikir yang diberikan untuk pertanyaan tingkat lanjut lebih banyak dari yang diberikan untuk pertanyaan tingkat dasar.
4. Susun pertanyaan pokok dan nilai pertanyaan tersebut sesudah selesai mengajar.


Keterampilan Memberi Penguatan
Penguatan adalah suatu respon terhadap suatu tingkah laku dan penampilan siswa. Penguatan adalah suatu respons terhadap suatu tingkah laku siswa yang dapat menimbulkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut.

Komponen-komponen dalam keterampilan memberi penguatan adalah:
1) Penguatan Verbal; penguatan ini dapat dinyatakan dalam 2 bentuk yaitu kata atau kalimat.
2) Penguatan Non Verbal; bisa berupa mimik atau gerakan badan, mendekati, memberi sentuhan atau memberi kegiatan yang menyenangkan, berupa symbol atau benda maupun penguatan tak penuh sepert “yah, jawabanmu sudah baik tetapi masih perlu disempurnakan”

Keterampilan Mengadakan Variasi
Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dimaksud sebagai proses perubahan dalam pengajaran yang dikelompokkan dalam tiga kelompok yaitu; variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan alat dan media pembelajaran dan variasi dalam pola interaksi dalam kelas.

Komponennya adalah:
a. Variasi dalam Gaya Mengajar:
1) Penggunaan variasi suara
2) Pemusatan perhatian
3) Kesenyapan
4) Mengadakan kontak pandang
5) Gerakan badan dan mimic
6) Pergantian posisi guru dalam kelas

b. Penggunaan Media dan Bahan Pelajaran

1) Variasi alat/ bahan yang dapat dilihat
2) Variasi alat yang dapat didengar
3) Variasi alat yang dapat diraba dan dimanipulasi
c. Variasi Pola Interaksi dan Kegiatan Siswa

Keterampilan Menjelaskan
Menjelaskan adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasikan secara sistematik yang bertujuan untuk menunjukkan hubungan, antara sebab akibat, yang diketahui dan yang belum diketahui.
Komponen-komponen Keterampilan Menjelaskan
a. Merencanakan:
1) Isi pesan (materi)
2) Penerima pesan (siswa)

b. Menyajikan suatu penjelasan
1) Kejelasan
2) Penggunaan contoh dan ilustrasi
3) Pemberian tekanan
4) Balikan

Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Yang dimaksud dengan keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan situasi siap mental dan menimbulkan siswa agar terpusat perhatian pada apa yang dipelajari.
Yang dimaksud dengan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa.
a. Komponen Membuka
1) Menarik perhatian siswa
2) Menimbulkan motivasi
3) Memberikan acuan
4) Membuat kaitan

b. Komponen Menutup
1) Meninjau kembali
2) Mengevaluasi

Keterampilan Memimpin Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah merupakah salah satu strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan berfikir, berinteraksi sosial serta berlatih bersikap positif.
Komponen Keterampilan:
1) Memusatkan perhatian
2) Memperjelas masalah atau urunan pendapat
3) Menganalisa pandangan siswa
4) Meningkatkan urunan siswa
5) Menyebarkan kesempatan berpartisipasi
6) Menutup diskusi

Keterampilan Mengelola Kelas
Mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan keterampilan untuk mengembalikan pada kondisi belajar yang optimal.
a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal Meliputi:
1) Menunjukkan sikap tanggap
2) Membagi perhatian
3) Memusatkan perhatian kelompok
4) Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
5) Menegur
6) Memberi penguatan

b. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal meliputi:
1) Modifikasi tingkah laku
2) Pengelolaan kelompok
3) Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah

Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Terjadinya hubungan interpersonal yang sehat dan akrab dapat terjadi antara guru-siswa, maupun antara siswa dan siswa, baik dalam kelompok kecil maupun perorangan.
Komponen Keterampilan:
1) Keterampilan untuk mengadakan pendekatan secara pribadi
2) Keterampilan Mengorganisasikan
3) Keterampilan Membimbing dan memudahkan belajar siswa
4) Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar
Panduan pada Matakuliah Micro Teaching

strategi belajar mengajar



A.                Pengertian kemampuan dasar mengajar
            keterampilan dasar mengajar (generic teaching skill) atau keterampilan dasar teknik intruksional yaitu keterampilan yang bersifat generik atau mendasar atau umum yang harus dikuasai oleh setiap guru, terlepas dari tingkat kelas dan bidang studi yang diajarkannya.
            Keterampilan dasar mengajar (KDM) merupakan keterampilan yang kompleks ,yang pada dasarnya merupakan pengintegrasian utuh dari berbagai keterampilan yang jumlahnya sangat banyak.Di antara keterampilan yang sangat banyak tersebut terdapat delapan KDM yang dianggap sangat berperan dalam keberhasilan kegiatan belajar.
B.                 Macam-Macam Keterampilan Dasar Mengajar
a.      Keterampilan membuka dan menutup pelajaran.
Menurut sugeng paranto (1979: 22-24), “yang dimaksud dengan Siasat membuka pelajaran adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam seting belajar mengajar untuk menciptakan  prakondisi,sehingga perhatian serta sikap mental siswa dapat digiring atau siap serta involve pada  persoalan/kegiatan yang akan dilakukan”.

Tujuan pokok dari siasat membuka pelajaran (set induktion) adalah:
i. Untuk menyiapkan mental siswa  agar involve atau siap memasuki persoalan/kegiatan yang akan dibicarakan /dilakukan
ii. Untuk menimbulkan minat serta pemusatan perhatian siswa terhadap apa yang mau dibicarakan/dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar.

Siasat menutup pelajaran (closure) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri kegiatan belajar mengajar yang bertujuan untuk:
i.     Merangkum atau membuat garis-garis besar persoalan yang baru saja dibahas/dipelajari sehingga memperoleh gambaran yang jelas tentang makna serta esensi dari pokok persoalan yang baru saja diperbincangkan.
ii. Mengkonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang pokok dalam pelbicaraan/pelajaran  tersebut agar  Informasi yang telah diterimanya dapat membangkitkan minat serta kemampuan pada masa-masa mendatang dalam kelanjutan proses belajar mengajar maupun penghidupannya.
ii.   Mengorganisasikan semua kegiatan maupun pembicaraan yang telah dipelajari dalam pertemuan tersebut sehingga merupakan suatu kebulatan yang berarti dalam memahami esensi bahan yang dipelajari.

b.      Ketampilan bertanya.
Selanjutnya Sugeng Paranto (1979: 4154) menyebutkan dalam proses belajar mengajar ,bertanya memegang peranan penting ,sebab pertanyan yang tersusun baik dengan teknik pelontaran yang tepat akan:
i.     Meningkatkan partissipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar

ii.   Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dibicarakan

iii. Mengembangkan pola berfikir dan cara belajar aktif dari siswa yang bersangkutan sebab berfikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya.

iv. Menuntun proses siswa, sebab pertanyaan yang baik membantu jawaban yang baik.

v. Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.

Bagi para guru terutama yang belum mendapatkan penataran PBM atau lulusan Universitas, faktor-faktor yang  perlu diperhatikan dalam penyampaian pertanyaan adalah:
i. Kejelasan dan kaitan pertanyaan
Harap diusahakan agar pertanyaan yang dikemukakan itu jelas maksudnya serta nampak benar kaitannya antara jalan pikiran satu dengan yang lainnya dan usahakan tidak  diselingi oleh kata-kata sisipan yang bersifat mengganggu ,misalnya ee,em,anu dan lain-lain.

ii. Kecepatan dan selang waktu
Kecepatan menyampaikan pertanyaan itu sendiri pada umumnya guru-guru muda belum berpengalaman cenderung banyak melontarkan pertanyaan ketimbang menerima jawaban dan pertanyaan-pertanyaan diucapkan denga cepat tanpa diselingi pause.tanpa memberikan kesempatan kepada siswa unutk berfikir.

iii.Pembagian dan penunjukan
Dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa agar diperhatikan sistem distribusinya, yaitu usahakan agar pertanyaan itu didistribusikan secara merata ke seluruh ruangan kelas,hal itu berhubungan dengan sifat pemalu atau kurang berani yang ada pada siswa.siswa yang pemalu biasanya cenderung segan menampilkan jawaban secara suka rela maka sebaiknya pertanyaan itu jangan dilepas begitu saja melainkan langsung ditujukan kepada salah seorang siswa,bila yang bersangkutan tidak dapat menjawab baru pertanyaan tersebut di “Redirecting”  pada siswa lain.
            Selain itu,perlu juga diperhatikan oleh guru-guru terutama guru muda agar memperhatikan teknik bertanya.teknik bertanya ini berguna untuk meningatkan kualitas jawaban siswa .disamping guru harus memperhatikan ketiga faktor di atas.
Teknik bertanya tersebut ialah:
i. Teknik menunggu(memberi waktu yang cukup bagi siswa unutk berfikir)
Berikan waktu sejenak 1-5 detik kepada siswa untk berfikir dalam rangka untuk menemukan jawabannya,pemberian waktu untuk memberikan kesempatan berfikir pada siswa itu ada efek positifnya,misalnya: 
a. Siswa dapat memberikan jawaban yang lebih panjang dan lengkap
b. Jawaban siswa lebih analitis dan kreatif
c. Siswa akan merasa lebih yakin akan jawabannya
d. Partisipasi siswa meningkat


ii. Teknik renforcment
Pemakaian yang tepat teknik ini akan menimbulakan sikap yang positif bagi siswa serta meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar sehingga memungkinkan pencapaian prestasi yang tinggi.

iii. Teknik menuntun dan menggali(prompting dan probing)
Prompting dan probing question dapat digunakan sebagai teknik untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas jawaban siswa.probing question ialah  pertanyaan yang bersifat menggali untuk mendapatkan jawaban yang lebih lanjut.

Jenis pertanyaan menurut taksonomi blum
·         Pertanyaan pengetahuan
·         Pertanyaan pemahaman
·         Pertanyaan penerapan
·         Pertanyaan analisis
·         Pertanyaan sintesis
·         Pertanyaan evaluasi

c.       Keterampilan memberi penguatan
Keterampilan dasar mengajar lainnya yaitu keterampilan memberi penguatan(reiforcement) yaitu menurut I.G.A.K wardani dalam Teori Belajar Motivasi dan keterampilan mengajar (1994: 83).seorang guru perlu menguasai keterampilan memberikan penguatan karena “penguatan “merupakan dorongan bagi siswa untuk menigkatkan penampilannya,serta dapat meningkatkan perhatian.

Penguatan dapat dibedakan dalam bentuk :
a. Verbal yaitu berupa kata-kata/kalimat pujian ,seperti bagus,tepat sekali,”saya puas dengan pekerjaanmu”.

b. Non verbal ,yaitu berupa:
1. gerak mendekati
2. Mimik dan gerakan
3. Sentuhan
4. Kegiatan yang menyenangkan
5. Token(sibol atau benda kecil).


d.      Keterampilan mengadakan variasi
Selanjutnya I.G.A.K wardani (1994: 83-88  dan 89-96)menyatakan, variasi dalam kegiatan belajar mengajar adalah perubahan dalam proses kegiatan dalam tujuan untuk meningkatkan motivasi para siswa,serta mengurangi kejenuhan dan kebosanan.
Variasi dalam kegiatan belajar mengajar dapat dikelompokkan menjadi 3.bagian , yaitu:
1.      Variasi dalam gaya mengajar dapat di lakukan dalam berbagai cara seperti
a.       Variasi suara :rendah, tinggi,besar, kecil
b.      Memusatkan perhatian
c.       Membuat kesenyapan sejenak
d.      Mengadakan kontak pandang
e.       Variasi kegiatan badan dan mimic
f.       Mengubah posisi, misalnya dari depan kelas ke tengah atau ke belakang kelas.

2. Variasi dalam penggunaan media dan bahan pelajaran
a. Variasi alat dan bahan yang dapat dilihat
b. Variasi alat dan bahan yang dapat didengar
c. Variasi alat dan bahan yang dapat dimanipulasi

3. Variasi dalam pola interaksi dan kegiatan
Pola interaksi dapat berbentuk: klasikal, kelompok dan perorangan sesuai dengan keperluan, sedang variasi kegiatan dapat berupa mendengarkan informasi ,menelaah materi,latihan atau demonstrasi.

e.       Keterampilan menjelaskan
Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar mengajar atau pelatihan, menjelaskan berarti mengorganisasikan materi pelajaran dalam tata urutan yang terencana secara sistematis,sehingga dengan mudah dapt dipahami oleh siswa.sehingga keterampilan ini wajib dimiliki oleh seorang guru.


Kegiatan menjelaskan bertujuan untuk :
1.      Membimbing siswa memahami berbagsi konsep,hukum,prinsip,atau prosedur
2.      Membimbing siswa menjawab pertanyaan “mengapa ”secara bernalar
3.      Melibatkan siswa menghayati berbagai proses penalaran
4.      Mendapatkan balikan mengenai pemahaman siswa
5.      Menolong siswa menghayati berbagai proses penelaran


Keterampilan menjelaskan terdiri atas beberapa komponen sebagai berikut:
1. Komponen perencanaan kegiatan mencakup :
a. Isi pesan (pokok-pokok materi) yang dipilih dan disusun secara sistematis disertai dengan contoh-contoh
b. hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik penerima pesan(siswa)
2. Komponen penyajian penjelasan mencakup hal-hal berikut:
a. Kejelasan yang dapat dicapai dengan berbagai cara ,seperti:
·         Bahasa yang jelas
·         Berbicara yang lancar
·         Mendefinisikan istilah-istilah teknis
·         Berhenti sejenak untuk melihat respon siswa
b. Menggunakan contoh dan ilustrasi, yang dapat mengikuti pola pikir induktif atau pola pikir deduktif
c. Pemberian tekanan pada bagian-bagian yang penting dengan cara : penekanan suara, membuat istihsar atau mengemukakan tujuan.
d. Balikan tentang penjelasan yang disajikan dengan melihat mimik siswa atau dengan mengajukan pertanyaan

Dalam menerapkan keterampilan menjelaskan,perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Penjelasan dapat diberikan pada awal ,tengah ataupun akhir pelajaran sesuai dengan keperluan.
2.      Penjelasan harus sesuai dengan tujuan
3.      Materi yang dijelaskan harus bermakna
4.      Penjelasan yang diberikan sesuai dengan kemampuan dan latar belakang siswa.

f.       Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Pengartian dan jutuan
            Diskusi kelompok kcil merupakan salah satu bentuk kegiatan belajar mengajar.yang penggunaannya cukup sering dilakuakan.Ciri,ciri diskusi kelompok kecil adalah:
1.      Melibatkan 3-9 orang peserta
2.      Berlangsung dalam interaksi tatap muka yang informal ,artinya setiap anggota dapat berkominukasi langsung dengan anggotanya.
3.      Mempunyai tujuan yang dicapai dengan kerjasama antar anggota lainnya.
4.      Berlangsung menurut proses sistematis

Diskusi kelompok kecil memungkinkan siswa:
1.      Berbagi informasi dan pengalaman dalam memecahkan masalah.
2.      Meningkatkan pemahaman terhadap masalah penting.
3.      Meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
4.      Mengembangkan kemampuan berfikir dan berkomunikasi.
5.      Membina kerjasama yang sehat,kelompok yang kohesif,dan bertanggung jawab.

Komponen Keterampilan
Komponen ketermapilan yang perlu dimiliki oleh pimpinan diskusi kelompok kecil adalah sebagai berikut :
1.      Memusatkan perhatian,yang dapat dilakukan dengan cara.
a.       Merumuskan tujuan diskusi secara jelas.
b.      Merumuskan kembali masalah,jika terjadi penyimpangan.
c.       Menandai hal-hal yang tidak relevan.
d.      Merangkum hasil pembicaraan pada saat-saat tertentu.
2.      Memperjelas masalah atau urunan pendapat.,dengan cara :
a.       Menguraikan kembali atau merangkum urunan pendapat peserta.
b.      Mengajukan pertanyaan pada anggota kelompok tentang pendapat anggota lain.
c.       Menguraikan gagasan anggota kelompok dengan tambahan informasi.
3.      Menganalisis pandangan
a.       Meneliti apakah alasan yang dikemukakan mempunyai dasar yang kuat.
b.      Memperjelas hal-hal yang disepakati dan yang tidak disepakati.
4.      Menigkatkan partisipasi siswa.
a.       Mengajukan pertanyaan kunci yang menantang mereka unutk berfikir.
b.      Memberi contoh pada saat yang tepat.
c.      Menghangatkan suasana dengan mengajukan pertanyaan yang mengundang perbedaan pendapat.
5.      Menyebarkan kesempatan berpartisipasi.
a.       Memancin pendapat peserta yang enggan berpartisipasi.
b.      Memberikan kesempatan pertama pada peserta yang enggan berpartisipasi.
c.       Mencegah secara bijaksana peserta yang suka memonopoli pembicaraan.
d.      Mendorong mahasiswa unutk mengomentari pendapat temannya.
e.       Meminta pendapat siswa jika terjadi jalan buntu.
6.      Menutup diskusi
a.       Merangkum hasil diskusi
b.      Memberikan gambaran tidak lanjut
c.       Mengajak para siswa menilai proses diskusi yang telah berlangsung.


Dalam melakukan diskusi perlu diperhatikan hal-hal berikut :
1.      Diskusi hendaknya berlangsung dalam iklim terbuka.
2.      Diskusi yang efektif selalu didahului oleh perencanaan yang matang yang mencakup:
·         Topik yang*sesuai
·         Persiapan informasi pendahuluan
·         Menyiapkan diri sebagai pimpinan diskusi
·         Pembentukan kelompok diskusi
·         Pengaturan tempat duduk yang memungkinkan semua anggota kelompok bertatap muka.


g.      Keterampilan mengelola kelas
1.      Pengertian dan tujuan
Keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan dalam menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang optimal guna terjadinya proses belajar mengajar yang serasi dan efektif.

Guru perlu menguasai keterampilan ini agar dapat :
a.       Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab indbidu Maupun klasikal dalam berperilaku yang sesuai dengan tata tertib serta aktifitas yang sedang berlangsung.
b.      Menyadari kebutuhan siswa
c.       Memberikan respon yang efektif terhadap perilaku siswa

2.   Komponen keterampilan

a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal dapat dilakukan dengan cara berikut:
·         Menunjukkan sikap tanggap dengan cara memandang secara seksama mendekati,memberikan pertanyaan atau memberi reaksi terehadap gangguan dalam kelas
·         Membagi perhatian secara visual dan vebal
·         Memusatkan perhatian kelompok dengan cara menyiapkan  siswa dan menuntut tanggung jawab siswa
·         Membari petunjuk-petunjuk yang jelas

·         Menegur dengan bijaksana, yaitu secara jelas dan tegas bukan berupa ocehan,serta membuat aturan
·         Memberikan penguatan bila perlu

b.      Ketetampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan ini berkiatan dengan respon guru terhadap respon negatif siswa yang berkelanjutan.untuk mengatasi hal ini guru dapat menggunakan 3 jenis strategi yaitu: modifikasi tingkah laku,pengelolaan (proses) kelompok serta menemukan dan mengatasi perilaku yang menimbulkan masalah.
i.                    Modifikasi tingkah laku
Dalam strategi ini terdapat 3 hal pokok yang harus dikuasai guru yaitu:
·         Mengajar tingkah laku baru yang diinginkan dengan cara memberi contoh dan bimbingan.
·         Menigkatkan munculnya tingkahlaku siswa yang baik dengan memberikan penguatan
·         Menguragi munculnya tingkah laku yang kurang baik dengan memberi hukuman.

Ketiga hal tersebut harus dilakukan oleh guru dengan catatan bahwa:
·      +   Pelaksanaan dilakukan setelah perilaku terjadi
·         Hukuman harus diberikan secara pribadi dan sendiri, hanya jika diperlukan.

ii.                  Pengelompokan proses kelompok

Dalam strategi ini kelompok dimanfaatkan unutk memecahkan masalah-masalah pengelolaan kelas yang muncul,terutama melalui diskusi dua hal yang perlu dilakukan guru adalah:
·         Memperlancar tugas-tugas dengan cara mengusahakan terjadinya kerjasama dan memantapkan standart serta prosedur kerja.
·         Memelihara kegiatan kelompok,dengan cara memelihara dan memulihkan semangat,menangani konflik yang timbul,serta memperkecil masalah yang timbul.

iii.                Menmukan dan mengatasi tingah laku yang bermasalah
Dalam strategi ini perlu ditekankan bahwa setiap tingahlaku yang keliru merupakan gejala dapa suatu sebab ,untuk mengatasinya ada berbagai teknik yang dapat diterapakan adalah:
·         Pengabaian yang direncanakan
·         Campur tangan dengan isyarat
·         Mengawasi dari dekat
·         Mengakui perasaan negatif siswa
·         Mendorong kesadaran siswa untuk mengungkapakan permasalahannya
·         Menjauhkan benda-benda yang bersifat mengganggu
·         Menyusun kembali program belajar
·         Menghilangkan ketegangan dengan humor
·         Menghilangkan penyebab gangguan
·         Pengekangan secara fisik
·         Pengasihan.

3.      Prinsip penggunaan

6 prinsip yang perlu diperhatikan dalam mengelola kelas:
·         Kehangatan dan keantusiasan dalam mengajar yang dapat menciptakan iklim kelas yang menyenangkan.
·         Menggunakan kata-kata atau tindakan yang dapat menantang siswa unutk berfikir
·         Menggunakan berbagai variasi yang dapat menghilangkan kebosanan.
·         Keluesan guru/dosen dalam pelaksanaan tugas
·         Penekanan hal-hal yang bersifap positif
·         Penanaman disiplin diri sendiri.

Selanjutnya dalam mengelola kelas guru hendaknya menghindari hal-hal berikut.
                                         i.            Campur tangan yang berlebihan
                                       ii.            Penghentian suatu pembicaraan karena ketidak siapan guru.
                                     iii.            Ketidak pastian memulai dan mengakhiri pelajaran
                                     iv.            Penyimpangan,terutama yang berkaitan dengan disiplpin diri.
                                       v.            Bertele-tele
                                     vi.            Pengulangan penjelasan yang tidak diperlukan

h.      Keterampilan  mengajar kelompok kecil dan perorangan.
Pengertian dan tujuan
Mengajar kelompok kecil dan perorangan terjadi dalam konteks pengajaran klasikal.di dalam kelas ,seorang guru mungkin menghadapai banyak kelompok kecil serta banyak siswa yang masing-masing diberi kesempatan belajar secara kelompok maupun perorangan.
Peranan guru :
1.      Organisator kegiatan belajar mengajar
2.      Sumber informasi bagi siswa
3.      Pendorong bagi siswa untuk belajar
4.      Penyedia materi dan kesempatan belajar bagi siswa.
5.      Pendiagnosa dan pemberi bantuan kepada siswa sesuai dengan kebutuhan
6.      Peserta kegiatan yang punya hak dan kewajiban seperti peserta lainya.


Komponen keterampilan
Pengajaran kelompok kecil dan perorangan masing-masing memerlukan keterampilan yang berkaitan dengan penanganan siswa dan penanganan tugas ada 4 kelompok keterampilan yang perlu dikuasai oleh guru yaitu:
1.      Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, yang dapat ditunjukkan dengan cara :
a.       Kehangatan dan kepekaan siswa
b.      Berperan sebagai penasehat
c.       Membantu siswa menilai kemajuan sendiri.
2.      Prinsip penggunaan
i.            Variasi pengorganisasian kelas besar ,kelompok, perorangan disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, kemampuan siswa ketersediaan fasilitas,waktu serta kemampuan.
ii.            Tidak semua topik  dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil dan perorangan.informasi umum sebaiknya disampaikan secara klasikal.
                        iii.             Pengajaran kelompok kecil yang efektif  selalu diakhiri dengan suatu kulminasi       berupa rangkuman ,pemantapan,kesepakatan,laporan dan sebagainya.
iv.            iv. Guru perlu mengenal siswa secara perorangan (individual) agar dapat mengatur kondisi belajar yang tepat.
v.            Dalam kegiatan belajar perorangan ,siswa dapat bekerja secara bebas dengan bahan yang disiapkan.

Keberhasilan studi siswa dipangaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa .faktor luar misalnya fasilitas belajar ,cara mengajar guru, sistem pemberian umpan balik dan sebagainya.faktor-faktor dari dalam siswa mencakup kecerdasan,strategi belajar motifasi dan sebainya.

KESIMPULAN
          Seorang guru dalam menjalankan tugasnya sebagai pengajar harus memiliki delapan kemampuan dasar seperti yang di sebutkan di makalah ini sehingga guru tersebut dapat  mengajar dengan baik.